Manusiawi banget kalau kita semua nggak mau dibilang salah. Ketika kita lagi ngobrol atau berdiskusi dengan teman atau orang lain, kita sering merasa opini kitalah yang paling benar. Sadar atau enggak, pada dasarnya kita punya keinginan yang tinggi untuk bisa jadi yang paling benar dan didengarkan. Kita pun diam-diam merasa puas ketika orang lain melakukan kesalahan.
Tapi, jadi paling benar nggak harus selalu diutamakan. Dalam beberapa kondisi, ada beberapa kualitas yang jauh lebih penting daripada menjadi benar:
1. Pemikiran Yang Terbuka
Kita nggak selalu bisa sependapat dengan opini orang lain, dan nggak bisa juga memaksa mereka setuju dengan kita. Bukan berarti orang yang nggak sependapat dengan kita itu salah, dan belum tentu juga kita benar.
Yang paling penting dalam diskusi adalah pendapat yang logis. Pendapat yang logis itu pendapat yang ditarik dari alur pemikiran yang selaras. Kalau pendapat temanmu ini sudah logis, kamu harus tetap menghormatinya seberapa pun berbedanya itu dari pemikiranmu.
Memang, nggak semua pendapat di dunia ini logis. Pendapat nggak logis inilah yang seringnya sulit kamu hargai di dunia nyata. Tapi kalau kamu menemukan dirimu kesulitan merespek pendapat temanmu, minimalhargailah hak temanmu itu untuk memercayai sesuatu. Perhatikan latar belakang orang itu — itu akan menjelaskan banyak hal kenapa dia bisa memercayai hal-hal yang disebutnya padamu. Kalau latar belakangmu dan dia jauh berbeda, wajar jika kalian memercayai hal yang berbeda pula. Setiap orang berhak percaya akan sesuatu, seberapa berbeda pun itu dengan keyakinan pribadimu.
Ini kenapa penting bagimu untuk mendengarkan dulu pendapat-pendapat orang di sekitarmu. Jika kamu merasa tidak sependapat, jangan buru-buru menyangkal. Dengan begitu, diskusimu dengan orang lain bisa berjalan dengan baik dan sehat.
Selain itu, mendengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu bisa membuat pemikiranmu jadi terbuka lebih lebar lagi. Cara pandangmu terhadap persoalan yang sedang kamu diskusikan bisa saja tiba-tiba jadi berubah. Bisa berpikiran terbuka adalah suatu kemewahan, loh.
2. Sifat Sabar
Mengesampingkan ego adalah hal yang penting kita lakukan, demi kenyamanan orang lain dan diri sendiri. Kita harus sedikit lebih sabar untuk mengungkapkan pendapat-pendapat kita kepada orang lain. Terkadang secara nggak sadar keegoisan kita tiba-tiba muncul ketika kita sedang berusaha menyampaikan pendapat kita pada orang lain. Pada akhirnya kita malah memaksa orang lain untuk menerima dan setuju dengan pendapat kita.
Kesabaran dalam menyampaikan pendapat bisa membuat kita menjadi lebih merasa bebas dalam mengutarakan ide-ide dan pendapat kita. Kita juga bisa jadi lebih obyektif dalam menilai pendapat kita dan orang lain.
3. Sifat Rendah Hati
Ketika kita selalu ingin menjadi orang yang paling benar di antara yang lain, itu cukup menandakan bahwa kita bukanlah orang yang rendah hati. Padahal, di dunia ini orang yang pintar itu banyak. Tapi yang rendah hati? Masih terlalu sedikit jumlahnya.
Kita juga harus belajar untuk ikhlas ketika orang lain mengatakan pendapat kita tidak benar. Renungi alasan dia mengatakan hal seperti itu. Nggak perlu ngotot untuk menunjukkan pada mereka bahwa kitalah yang benar. Ini nggak berarti kita mengorbankan kebenaran yang udah kita yakini, ini artinya kita tahu bagaimana seharusnya berperilaku dalam kehidupansosial. Bersikap rendah hati dan saling toleransi pada sesama manusia adalah hal yang nggak boleh kita lupakan.
4. Memaafkan Itu Lebih Penting
Keegoisan untuk jadi orang yang paling benar bisa berdampak pada merenggangnya hubungan kita dengan orang-orang terdekat. Bayangkan kamu berkonflik dengan mereka, dimana kamu tidak mau mengkompromikan posisimu. Yang akan lakukan kemudian adalah berusaha membuktikan bahwa sebenarnya mereka yang bersalah. Ini akan membuat mereka merasa tersudutkan dan ujung-ujungnya hanya memperkeruh situasi.
Untuk menghindari hal semacam ini, kita harus segera sadar akan pentingnya saling memaafkan. Untuk apa kita mengorbankan hubungan dengan orang-orang yang kita sayangi hanya demi ingin dianggap benar? Meskipun pada nyatanya memang kamu yang benar, kamu harus bisa berbesar hati untuk memaafkan dan menerimanya. Menjaga dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang sekitar itu jauh lebih penting dan bermakna, ‘kan?
5. Berhati Emas
Tanpa kita sadari, kita seringkali terperangkap dalam obsesi kita sendiri untuk bisa menjadi orang yang selalu benar di mata orang lain. Hati dan pikiran kita jadi terbutakan karena kita terlalu takut untuk disalahkan oleh orang lain.
Karena obsesi kita itu, kita bahkan bisa melakukan hal-hal buruk yang seharusnya nggak kita lakukan. Padahal, menjadi benar itu belum tentu bisa membawa hidup kita menuju kebahagiaan dan ketenangan, tapi berbuat baik kepada orang lainlah yang bisa membuat kita merasakan kebahagiaan. Ketika kita diberi pilihan antara yang benar atau berbaik hati, pilihlah jadi berbaik hati.
Nah, semoga dengan ini kita bisa ingat lagi bahwa menjadi paling benar bukanlah nggak selalu jadi hal yang paling mulia. Sebelum kita bersikeras membela pendapat kita, pertimbangkanlah pentingnya hal-hal yang sudah di sebutkan di atas tadi!
0 komentar:
Post a Comment