Tuesday, April 2, 2013

Refleksi Pancasila sebagai Pedoman hidup Berbangsa dan Bernegara


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5fulPK6n88FsPc5TJgJ425qCpJiEfiARprYwAGmADMCT6Vo6zTusyRvsdRyWJTE9UsRgcx48W99e-iMcPUlSm26y80v9Mv8Dbc0GMtf48Pq_E1TWf7BUN-LIc5DWbix0R6OZ0ZL11qy8/s1600/Pancasila-386x290.jpg
Pada buku Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966) yang ditulis oleh Cindy Adams dan dialihbahasakan oleh Mayor Abdul Bar Salim, Bung Karno menceritakan secara jujur dan apa adanya bagaimana proses penggalian dari pidato Pancasila 1 Juni 1945 pada persidangan BPUPKI.
Inilah refleksi 66 tahun pidato Pancasila dari Soekarno yang sangat bergelora dan penuh nada optimisme pada saat membangun prinsip dasar kemerdekaan Indonesia. Bung Karno mengatakannya sebagai philosofische grondslag yang dalam bahasa Jerman dinamakan WeltanschauungWeltanschauung dalam pengertian Soekarno adalah fundamen, filsafat, pikiran, jiwa, dan hasrat yang sedalam-dalamnya bagi didirikannya gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.
Sebelum Bung Karno, ada Muhammad Yamin dan Prof. Soepomo yang telah berpidato mengenai prinsip dasar dari kemerdekaan Indonesia. Tapi, semuanya seakan tidak mengena kepada persoalan prinsip dasar-dasar kemerdekaan Indonesia. Tiba giliran Soekarno suasana riuh rendah yang sesekali disertai interaksi dengan para anggota persidangan membawa suasana persidangan  menjadi “lebih hidup.” Gegap gempita tepuk tangan dan aplaus panjang diberikan untuk pidatonya yang menggelegar dan menyentuh kalbu para pendengarnya.
Ketika negeri ini meniadakan Pancasila sebagai pelajaran wajib dan menggantinya secara pragmatis dan sederhana menjadi kewarganegaraan, saya justru ingin menguatkan peranan Pancasila melalui otobiografi Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adams itu.  Ya, Pancasila sering disalahgunakan dan terkelirukan oleh rezim yang berkuasa. Kalau sudah begini, tentu Pancasila tinggal menjadi kosmetik belaka bagi siapa yang berkuasa. Pancasila juga semakin mudah diombang-ambingkan oleh arus globalisasi yang menghantam negeri ini sampai linglung. Pancasila jatuh tersungkur dan terperosok sampai ke dalam titik nadirnya.


   Dari buku Cindy Adams halaman 300, saya menuliskan kembali sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.
“Aku duduk mendengarkan pembicaraan simpang siur ini dan membiarkan setiap orang mengeluarkan pendapatnya. Buluku berdiri tegak mendengarkan mereka menjelaskan rencana masing-masing yang mengemukakan segala macam perkara kecil-kecil. Mereka terlalu banyak men-jika dan terlalu banyak mengira-ngira. Melihat ini semua kukira tak seorangpun dari kami yang akan mengenal kemerdekaan hingga masuk ke liang kubur. Kalau seandainya Jepang memerdekakan diri di hari itu juga tentulah kami berkata, “Wah, tunggu dulu… tahan dulu sebentar, kami masih belum siap.
Enam belas tahun lamanya aku telah mempersiapkan apa yang hendak kukatakan. Dalam kuburanku yang gelap di Banceuy, maka landasan-landasan tempat republik disuatu waktu akan berpijak sudah mulai tampak dalam pikiranku. Aku menyadari, bahwa kami tidak dapat mendirikan bangsa kami atas dasar Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Pun tidak berdasarkan Manifesto Komunis. Kami tidak mungkin meminjam falsafah hidup orang lain, termasuk juga Tenno Koodo Seishin, yaitu semangat kedewaan daripada kaisar. Marhaenisme Indonesia tidak sama dengan dasar falsafah lain. Tahun demi tahun aku merenungkan semua ini.
Di Pulau Bunga yang sepi tidak berkawan aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya merenung dibawah pohon kayu. Ketika itulah datang ilham yang diturunkan oleh Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai kedasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah.
Di malam sebelumku berbicara aku berjalan ke luar dipekarangan rumah kami. Seorang diri. Dan menengadah memandangi bintang-bintang dilangit. Aku kagum akan kesempurnaan ciptaanNya. Aku meratap pelahan dalam hatiku. Kepada Tuhan kusampaikan,”Aku menangis dalam dadaku karena besok aku akan menghadapi detik bersejarah dalam hidupku. Dan aku memerlukan bantuanMu.
Aku sadar, bahwa buah pikiran yang akan kuucapkan bukanlah kepunyaanku. Engkaulah yang membeberkannya dimukaku. Hanya engkaulah yang memiliki Daya Cipta. Engkaulah yang membimbing setiap nafas dalam kehidupanku. Turunkanlah pertolonganMu…kepadaMu kumohon pimpinanMu, kepadaMu kupohonkan ilham guna di hari esok.”
Selanjutnya sejarah mencatat kelima mutiara terpendam nan indah yang disarikan Soekarno itu adalah Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menyikapi kondisi saat ini yang kian “tak bersahabat” saja dengan Pancasila, sudah selayaknya bangsa dan negeri ini merefleksikan 66 tahun pidato Pancasila Soekarno itu.  Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia itu sendiri dan oleh karena itu Pancasila janganlah dimaknai secara dogmatis dan menjadi hafalan belaka. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bisa dimaknai terus-menerus sesuai perkembangan zaman. Kalau sudah begini, Pancasila sudah barang tentu menjadi pandangan hidup yang kembali kepada akarnya, yakni bangsa Indonesia sendiri. Dan pada akhirnya Pancasila pun jaya bagi kemajuan negeri.


  Dalam Tap MPR No. 2 Tahun 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, dalam Pasal 4 dikatakan :
"Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ini merupakan penuntun dan pegangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi setiap warganegara Indonesia, setiap Penyelggara Negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah dan dilaksanakan secara bulat dan utuh"

Artinya TAP MPR No. 2 Tahun 1978 telah menjadikan Pancasila sebagai Pedoman yang berfungsi sebagai penuntun serta menyatukan pandangan hidup bagi setiap warganegara, penyelenggara negara, lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan.

Namun ketika Reformasi, Pedoman ini dicabut dengan TAP MPR No. 18 Tahun 1998 tentang Pencabutan TAP MPR No. 2 Tahun 1978. dan secara otomatis Pedoman yang menjadikan Pancasila sebagai Pedoman bersama untuk menuntun serta menyatukan pandangan hidup telah tercabut dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dan faktanya saat ini, sesama Penyelenggara negara kerap berselisih/konflik,  Antar Lembaga Kenegaraan berselisih/konflik, antar lembaga kemasyarakatan pun konflik/berselisih. Masing-masing sudah berjalan sesuai kehendaknya masing-masing dan tercerai berai.

Ironisnya, Pancasila saat ini hanya dijadikan komoditas oleh para elite yang hanya menjadikannya wacana/pepesan kosong tanpa adanya tindakan kongkrit untuk menjadikan Pancasila kembali menjadi Pedoman yang diformalkan dalam ketetapan yang dikeluarkan dari Lembaga Bangsa yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang pada tahun 1978 telah melahirkan sebuah Pedoman yang dapat menyatukan pandangan, pola pikir "mindset" yang dihasilkan dari suatu hasil musyawarah dalam sidang umumnya.




1 comment:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com